19 Oktober 2009

Hipertensi Bisa Disertai Diabetes

Kompas

Kompas - Sabtu, Oktober 17


KOMPAS.com - Jika tekanan darah sering diatas 120/90 mmgHg, otomatis risiko diabetes meningkat dua kali lipat. Ini kalau dibandingkan dengan orang yang tekanan darahnya normal. Demikian menurut penelitian yang dilakukan ilmuwan dari Brigham and Woman Hospital dan Harvard Medical School selama 10 tahun.

Yang dimaksud dengan tekanan darah tinggi adalah ukuran tekanan darah di atas batas normal, baik saat kita sedang santai, terlebih saat kita sedang marah atau stres dalam jangka waktu tertentu.

Diabetes meningkatkan risiko darah tinggi sebab penumpukan gula dan kolesterol menyebabkan pengerasan pembuluh darah arteri. Ujung-ujungnya darah tidak mengalir lancar, sehingga tekanannya menjadi naik. Selain menjadi pemicu darah tinggi, penyakit diabetes juga bisa menjadi penyakit "bayangan" untuk gagal jantung dan gangguan fungsi ginjal.

Segera memeriksakan diri ke dokter, manakala kita curiga tekanan darah sudah di atas normal. Pemeriksaan ini dimaksudkan untuk mengetahui tingkat risiko diabetes. Untuk mencegah risiko penyakit berat lain seperti jantung dan ginjal, minta agar dokter melakukan tes rutin bagi penderita darah tinggi, yaitu:

- Tes urin untuk memeriksa kadar proten dalam air seni
- Tes darah untuk memeriksa apakah ginjal kita berfungsi dengan baik.
- Tes kadar kolesterol
- Tes EKG untuk memeriksa kesehatan jantung.

Perlu juga kita ketahui bahwa tekanan darah tinggi bukanlah suatu penyakit seperti flu yang bisa sembuh karena menelan obat. Tekanan darah tinggi harus diatasi dengan perubahan gaya hidup. Rutinlah berolahraga, cegah obesitas, batasi garam, dan hentikan kebiasaan merokok.


06 Mei 2009

Gangguan Irama Jantung


Pertanyaan :

Saya sudah membaca beberapa arsip konsultasi di sini tentang gangguan irama jantung. Ternyata banyak juga kasusnya. Sepertinya itu yang sedang saya rasakan.

Jantung saya hampir setiap hari mengalami gangguan irama, kadang hilang kemudian muncul lagi, malahan kadang detak jantung hanya 30 x per menit. Tetapi tidak pernah di atas normal (cepat) seperti konsultasi yang lainnya.

Adakalanya seharian penuh datangnya, tetapi terkadang hanya sekali-sekali. Kalau sedang "kumat" badan terasa lemas, namun saya bawa jalan kaki agar detakannya tidak terlalu turun.

Apa sebenarnya nama penyakitnya, Dok? Kira-kira berapa biaya kalau bisa disembuhkan.

Terima Kasih banyak.

Rusli,
Kalimantan Barat

Jawaban :

Denyut jantung yang lambat (kurang dari 60 kali permenit) disebut Bradikardi.

Bradikardi terdiri dari berbagai macam/jenis kelainan irama tergantung tempat terjadinya gangguan sistem listrik di jantung.

Dua jenis Bradikardi yang sering ditemukan adalah blok pada sistem konduksi listrik dan generator listrik jantung yang sakit.

Bila denyut menjadi terlalu perlahan akan menyebabkan aliran darah ke otak sangat berkurang sehingga menimbulkan gejala lemas, kekenyangan bahkan pingsan. Dalam keadaan yang ekstrem dapat menimbulkan stroke.

Lakukan pemeriksaan EKG dan Holter sesegera mungkin untuk menghindari ancaman bahaya stroke. [L1]



Pengasuh :
Dr. Yoga Yuniadi, SpJP
Spesialis Jantung & Pembuluh Darah - Elektrofisiologi

Mau Konsultasi Klik disini



Pengasuh :
Dr. Cahyadi
Kebidanan & Peny. Kandungan / Obstetrics & Gynaecology

Mau Konsultasi Klik disini



Pengasuh :
Dr. Murdani, SpPD, KGEH
Spesialis Penyakit Dalam - Konsultasi

Mau Konsultasi Klik disini

ARSIP KONSULTASI

19 April 2009

Masalah Kulit Pada Bayi dan Anak Perlu Diantisipasi

Selasa, 14 April 2009 | 21:46 WIB
Laporan wartawan KOMPAS Evy Rachmawati

JAKARTA, KOMPAS.com - Masalah kesehatan kulit pada bayi dan anak perlu diperhatikan agar tidak mengganggu penampilan dan menimbulkan komplikasi bila telah beranjak remaja. Untuk itu, bila ditemukan ada gangguan kesehatan kulit pada bayi dan anak, para orang tua perlu mewaspadainya dan segera memeriksakan anaknya ke dokter.

Demikian disampaikan dokter spesialis kulit dan kelamin dari Departemen Kesehatan Kulit Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia-Rumah Sakit Umum Pusat Cipto Mangunkusumo dr Tina Wardani Wisesa, dalam jumpa pers Simposium Masalah Kulit dan Keputihan pada Bayi dan Anak, Selasa (14/4), di ruang Sartono, FKUI-RSCM, Jakarta.

Simposium untuk awam itu akan diselenggarakan pada 25 April mendatang di Hotel Novotel, Mangga Dua, Jakarta. Menurut Tina, simposium itu bertujuan untuk menginformasikan kepada masyarakat awam tentang masalah kulit yang sering ditemukan pada bayi dan anak, jerawat pada remaja, keputihan pada bayi dan anak, perawatan alat kelamin pada bayi dan anak, serta kiat-kiat memilih pelembab kulit pada bayi dan anak.

Topik pertama adalah, berbagai masalah kulit yang sering ditemukan yaitu eksim susu, eksim seboroik, eksim popok, penyakit infeksi kulit yaitu cacar api dan cacar monyet, serta tanda lahir hemangioma dan bercak mongol. Dengan mengenali penyakit atau tanda-tanda itu, maka dapat dilakukan penatalaksanaan awal yang tepat dan mengetahui kapan harus dikonsultasikan ke dokter, ujarnya.

Ketika beranjak remaja, masalah yang sering ditemui adalah jerawat. Kelainan ini dipengaruhi banyak faktor yang saling berkaitan dan sulit dihilangkan dalam waktu singkat. Untuk menghindari komplikasi yang tidak diinginkan, sebaiknya pengobatan dilakukan oleh dokter spesialis kulit dan kelamin.

Masalah lain yang sering ditemukan adalah keputihan pada bayi dan anak. Keputihan patologis sering disebabkan infeksi bakteri, jamur atau parasit dan juga oleh sebab non infeksi yaitu benda asing. Perlu diwaspadai kemungkinan adanya pelecehan seksual pada anak yang mengalami keputihan dengan penyebab infeksi menular seksual, kata dokter spesialis kulit dan kelamin dari FKUI-RSCM Hanny Nilasari.

Dengan memahami gejala, penyebab dan pencetus keputihan pada bayi dan anak, maka dapat mencegah terjadinya keputihan pada bayi dan anak serta mencegah agar tidak berulang. Penting pula dibahas tentang kebersihan genitalia. Beberapa perilaku kebersihan membawa potensi efek samping kesehatan yang tidak baik. Karena itu, perlu diketahui bagaimana perilaku kebersihan genitalia yang baik, termasuk pada kondisi ekonomi keluarga dan ketersediaan infrastruktur terbatas, ujarnya.


Sumber : Kompas